1000 pesan telah aku kirimkan, namun hati kita hanya mendekat sekitar 1 centi meter. Itulah yang telah saya pikirkan sejak lama, saat aku berbicara denganmu melalui telepon genggam yang aku miliki. Aku selalu menanti pesan yang akan kamu kirimkan, dan disaat itupun aku juga memikirkan balasan yang cocok untuk bisa membuat topik yang kita bicarakan menjadi panjang. Tidak berhenti begitu saja.
Setiap hari aku selalu melihat hal-hal yang akan kami bicarakan, sangat teliti. Tak pernah aku seteliti ini, hanya dirimu lah yang mampu membuat aku seperti ini. Hari hari yang lalu telah terlewati dan aku takut sekali bahwa hal ini akan berakhir begitu saja, aku ingin ini terus berlanjut, tidak seperti bunga sakura yang akan jatuh 5 cm/detik. Aku tidak ingin hubungan yang ada, berhenti tiap 5 pesan.
Hari-hari terus berlalu, namun aku merasa bahwa kita semakin menjauh. Mendekat 1 centi meter, namun menjauh 5 centi meter, tidak akan pernah sampai perasaan ini. Kenapa ini semua harus terjadi?., aku benci ketika ini terjadi pada diriku, aku merasa sangat lemah, dadaku terasa sangat sesak sekali.
Di jalan yang sama, di persimpangan yang sama, selalu terbayang kenangan yang ada. Engkaulah yang terus selalu ada dalam pikiranku, kini aku terdiam menatap langit yang tak lagi terang, tertutup oleh awan, seperti akan hujan. Layaknya langitpun menangisi kepedihan yang ada dalam diriku.
Aku hanyalah seorang pengecut yang tak berani untuk mengucapkan beberapa kata patah, pandai dalam membuat kata kata indah namun tak berbekas, apakah ada cara lain sehingga aku dapat memberanikan diriku untuk berbicara yang sebenarnya kepadamu, aku takut, aku putus asa dalam hal ini.
Hari ini, aku terdiam lagi, sambil memegang secangkir kopi panas. Aku melakukan lagi kegiatan yang terus aku lakukan setiap hari, terasa sesak untuk dapat terus melakukan hal yang sama setiap hari, aku mulai berpikir apakah aku adalah seorang robot yang tidak memiliki perasaan.
Hujan dengan deras turun, aku lupa membawa payung yang sudah aku taruh di depan pintu. Aku mengira hari ini tidak akan hujan, namun perkiraanku salah. Air air turun dengan sangat deras, seperti menangisi ketidakmampuanku untuk melupakanmu, hujan hari ini sangatlah kejam, terus menghujam badanku, sampai masuk kedalam tulangku. Namun aku kemudian menyadari bahwa hujan tersebut telah membuat kenangan yang tercipta di antara diriku dan dirimu. Telah “BERLALU”.
Akhirnya aku memberanikan diri untuk berjalan dengan senyuman yang dimana aku ingin menunjukkan bahwa aku dapat bebas dari cengkraman baying dirimu. Akhirnya aku menyadari bahwa selama ini, aku telah menyakiti diriku sendiri. Terima kasih atas apa yang telah kita lalui bersama. Mesej yang ada, akan selalu aku simpan. Sebagai pengingat di masa yang akan datang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar